Jumat, 25 Maret 2016

Selamat malam teman-teman semuanya. Nama saya Raditya Dika dan saya galau, karena saya baru putus dari pacar saya.
Nyanyi :
“Pergilah kau. Pergi dari hidupku” (mabuk)

Maskara gue luntur nih. Gue datang ke sini dengan tujuan untuk mencari pacar baru. Yahh, mudah-mudahan dari penonton ada yang bisa jadi pacar gue pada malam hari ini. Itu kenapa laki-laki pada senyum banget situ ya? (nunjuk sekumpulan penonton). Tujuan saya kesini mau cari pacar baru. “Hahhh…saya…pilih sayaa”(ekspresi muka berharap). Malu sama kumis loe. Ciuman juga gak enak. Gelik-gelik gitu, disapu-sapu gitu. Gatel beg*o!! Gak enak ciuman sama orang berkumis.
Susah ya..cari pacar jaman sekarang. Gua diputusin sama pacar gue dan gue galau banget nih. Gue sedih. Kerjaan gue gitu kan kerjaan gue gitu kan ngetwit karena gua galau.
“Adit angan edih agi”.
Followers-followers gue bales, “cemungudh ea Adith”
Gue balas, “Muuciihhh eaaaaa” (ekspresi muka jijik)
Gue jadi rentan galau. Gue rentan galau. Tiap hari gua rentan banget sama galau. Liat mendung, liat gambar ombak, buka facebook mantan. GALAUUU (muka galau). Masuk kamar mandi, nyalain shower, sampoan sambil nangis.
“Kenapa? Kenapa?Kenapa?”
Sikat gigi sambil nangis, “Kenapa?Kenapaa? (muka nangis sambil nyikat gigi)
Boker sambil nangis. “Kenapa?Kenapa? (gaya boker sambil bokong goyang ke kiri kanan). Kenapa kagak ada aer? Kenapa gak ada aer? Kenapa gua lagi galau gak ada aer?” Taruh di tembok. (bokong goyang ke atas ke bawah)
Galau gue. Sorry,, maaf jorok. Bukan di tembok. Di lantai… (gaya boker di lantai). Produser Metro TV di belakang, “Mampus.. gimana gua ngeditnya? Acara apa ini? Seharusnya kamu cerdas Radit!” Dia bilang. (nunjuk produser)
Gue jadi rentan galau. Gua mencari-cari pacar baru. Gitu kan. Dan gara-gara itu, gua jadi gampang kesel. Gua ngeliat yang terjadi sehari-hari kalo gua lihat orang pacaran itu terlihat jadi norak dimata gue. Tadi gue di kantin liat ada cowok suap-supan sama cewek.
“ Buuueekkhhh..” (muka muntah). Geliii. Suap-suapan sama ceweknya.
“Sayang aakk, sayanggg, aakkk, Sayanggg “ (tangan nyuapin)
“Aaammmm”
Cowoknya minta “sayang aku juga. aku jugaa “
Gua datang ngambil sendok. “ Colok ke matanya” (colok sendok ke mata)
Elo gak tau perasaan gue. Gue siapa yang nyuapin? Tidak punya toleransi dalam berasmara. Kasian orang-orang kayak gue. Fakir-fakir asmara. Fakir asmara tapi bukan pengemis cinta.
Gua kesel liat orang pacaran. Norak lo semua. Gua buka facebook. Foto di pantai. Ngapain tuh di pantai? Nulis-nulis nama di pasir!! (muka marah campur jijik)
“Bueekkkhhh” (muntah)
Deee love aaaa di pasir. Gitu kan. Jepret. Di-tag di facebook. Gue juga bisa liat (muka depresi). Lo gak kasian sama gue? Gue ngapain dipasir?!? Nulis-nulis nama sendirian. Ke laut..ngambang… (sikap ngambang)
Ada apaa? Gak kasian sa,a gue? Couple T-shirt. Ya Allah. Gua ke pondok indah mall. Gua ngeliat ada orang pacaran pake couple t-shirt. Itu gelliii bangett.
“Buueekkhhh” (muka muntah). Itu geli banget. Tau gak? Yang cowok,make tau gak apa? She is my love, tanda panah ke kiri. Yang cewek sebelah kirinya. He is my love. Tanda panah ke kana. Gua pakai apa? Gua pakai where is my love? Tanda panah kemana-manaaaaa.
Pedekate. Pedekate juga norak. Mulai ada panggilan-panggilan sayang. Tau gak,, kalo awal-awal mula pedekate juga jijik tau gak. Mention-mentionan pertama kali kek gitu kan. Lalu ada panggilan sayang.
Kalo dia gendut “Endut… Bangun dong endut.. Tembem, bangun dong tembem. Kalo dia peang, eang. Bangun dong eangg. “
Gua biasa diapnggi entet karena gua kontet. Kenapa kalian tertawa???
Pedekate juga norak. Banyak kejijikan yang tersimpan dengan pedekate. Yang paling jijik tau gak apa. Model lama. Telfon-telfonan. Akan ada tiba masanya dimana lo akan telfon-telfonan sama gebetan lo. Dan lo akan main siapa yang tutup telfon duluan. Itu gellliii. Di telfon gitu.
“Udah..udah pagi nih. Besok aku mau berangkat ke kampus. Ya udah kamu tidur duluan. Kamu dong dulu tutup telfonnya”
“Enggak-enggak kamu dulu”
“enggak kamu dulu”
“KAMU DULU”
“ya udah kamu dulu”.
“sama-sama ya. Satttuuu, dduuuua, tttigggaaa, Kok gak ditutup?” (muka manja) Kok gak ditutup? Kenapa gak ditutup? Masih mau ngomong sama aku ya?
“Iya. Ehehehemhm.” (muka manja)
(muka marah)
Pedekate. Gelik tau gak gua ngeliatnya. Capek gue. Lalu ketika lo pedekate, semua akan lo cocok-cocokin dengan gebetan lo. Lo baca majalah gitu katakan majalah GADIS. Lo liat gebetan lo capricon. Lo virgo.
“ihh, baca di majalah GADIS, capricon sama virgo, si doi cocokk. Bener kan? Bener kan?”
Tapi ketika gak cocok capricon gak cocok sama virgo. Wah. Lempar. Bakar. Bakar. Bakar. Bakar. Ini musyrik. Ini musyrik. (muka marah)
Diputusin. Diputusin tau gak alasannya gak enak banget. Tau gak alasan yang biasa orang bilang kalo mutusin alasannya bullshit banget.
“kamu terlalu baik buat aku” (muka depresi sambil marah)
Gua harus jawab apa?
Gua jawab “maaf sayang, aku coba buat lebih jahat lagi sama kamu.”
Apaa? Gua pernah diputusin di kampus gue waktu itu sama pacar gue di kampus.
“kalo jodoh kita ketemu lagi”
“kita kan satu kampus beggoo. Besok mikro ekonomi juga sama. Gobl*k banget sih!“ (muka marah)
Orang suap-suapan gua geli. Tapi gua trauma. Tau gak kenapa? Karena pas masih kecil gue main suap-suapan sama nyokap gue main pesawat-pesawatan, tau gak? Dimasukin nasinya, terus
“Dikaaa.dikaa, aaakkk, pesawatnya mau landing, aaakk, aakkk, aakkk” Gitu kan? Gara-gara itu sekarang gua rusak. Tiap kali gua keluar keluar rumah ngeliat ada pesawat terbang.
otomatis gua ngangap “turun..laper…. laper” (muka kelaparan)
Nama saya Raditya Dika. Selamat malam
Buat pihak-pihak yang merasa tersakiti, mohon maaf ya. Gak ada niat untuk seperti itu kok kaka.
Buat naskah yang lainnya menyusul ya kaka. Makasihhh…
Silakan di copy, tapi jangan lupa cantumin sumber aslinya ya yaitu ilovemycountryindonesia.wordpress.com
:)

 like komentar

chord gamma 1

CHORD GAMMA 1 BAPAKKU DOKTER CINTA (HAL BIASA)
[intro] G
G D C Bm Em D

Am Em D
Mana janjimu padaku yang dulu kau ucapkan untukku
C Bm
Semua tak nyata
Am Em D
Khilaf atau memang lupa atau memang kau sengaja
C Bm
Mendua terhadap diriku

C Em
Mungkin kau pikir ku akan menangis
C Bm
Atau kecewa dan terluka karenamu

[chorus]
G D
Sayang bapakku dokter cinta
C Bm Em D
Sakit hati putus cinta bagiku hal biasa
G D
Jadi jangan kau mengira ku terluka
C Bm Em D
Putus nyambung dalam cinta bagiku hal biasa

[int] G D C Bm Em D

C Em
Mungkin kau pikir ku akan menangis
C Bm
Atau kecewa dan terluka karenamu

[chorus]
G D
Sayang bapakku dokter cinta
C Bm Em D
Sakit hati putus cinta bagiku hal biasa

[chorus:overtone]
A E
Sayang bapakku dokter cinta
D C#m F#m E
Sakit hati putus cinta bagiku hal biasa
A E
Jadi jangan kau mengira ku terluka
D C#m F#m
Putus nyambung dalam cinta bagiku hal biasa

D E F#m
(Karena bapaknya) dokter cinta
D E F#m
ooooo Hal biasa
D E F#m
(karena bapaknya) dokter cinta
Top of Form
Bottom of Form


syekh muhammad abduh






MAKALAH KELOMPOK 9
ILMU KALAM
Syekh Muhammad Abduh
Disusun dan Disampaikan Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Kalam
Dosen Pengampu :  Dr. H. FAHMI DAMANG, M.A.

IAIN PALOPO





FAKULTAS TARBIYAH dan ILMU KEGURUAN
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PALOPO
                                            TA; 2015/2016
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kami rahmat serta hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikam makalah yang berjudul “ Manusia,Keragaman dan Kesetaraan“ ini dengan sesuai rencana. Makalah ini bertujuan untuk melatih ketajaman berfikir dan kekompakan dalam kelompok untuk menyatukan beberapa pemikiran yang berbeda menjadi makalah yang baik
Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangatlah diharapkan, atas kritik dan sarannya kami mengucapkan terima kasih.















PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dengan latar belakang pendidikan, pengalaman serta motivasinya yang kuat untuk memajukan dunia islam, Muhammad Abduh tidak hanya memiliki pemikiran pendidikan yang bercorak modern, melainkan juga memiliki pemikiran dalam banyak bidang seperti pemikiran mengenai kemajuan dan kemunduran umat,  politik, teologi dan filsafat. Selain itu, corak pemikiran pendidikan Muhammad Abduh juga berdasar pada pemikiran teologi rasional, filsafat dan sejarah. Dengan dasar dan corak pemikirannya yang demikian itu, maka beliau dapat mengemukakan gagasan dan pemikirannya dengan cara yang segar dan sesuai dengan perkembangan zaman pada waktu itu. Untuk itulah dalam pembahasan selanjutnya akan kami bahas mengenai pemikiran dari tokoh pembaharu ini khususnya dalam bidang kemajuan-kemunduran umat, pemikirannya mengenai teologi, dan yang terakhir adalah mengenai pembaharuanya dalam bidang pendidikan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana riwayat hidup Muhammad Abduh ?
2.      Bagaimakah Pendapat Muhammad Abduh mengenai kemunduran umat islam pada saat itu, dan bagaimana pula cara Abduh untuk memajukan umat dari kemunduran?
3.       Apakah yang digagas Muhammad Abduh mengenai teologi ?
4.      Dan Apa sajakah gagasan Muhammad Abduh untuk memajukan pendidikan ?
   
PEMBAHASAN

A.    Biografi Muhammad Abduh
Syekh Muhammad Abduh nama lengkapnya adalah Muhammad Abduh Hasan Khairullah. Dilahirkan  di desa Mahallat Nasr, Syibrakhit, Provinsi Buhairah Mesir. Ayahnya bernama Abduh Hasan Khairullah, berasal dari Turki yang telah lama tinggal di Mesir. Ibunya menurut riwayat berasal dari bangsa Arab yang silsilahnya sampai ke suku bangsa Umar ibn al-Khattab. Abduh Hasan Khairullah kawin dengan ibu Muhammad Abduh sewaktu merantau dari desa ke desa itu dan ketika ia menetap di Mahallat Nasr, Muhammad Abduh masih dalam ayunan dan gendongan ibu. Muhammad Abduh lahir dan menjadi dewasa dalam lingkungan desa di bawah asuhan ibu bapa yang tak ada hubungannya dengan didikan sekolah, tetapi mempunyai jiwa agama yang teguh. Ia dikirim oleh ayahnya ke Tanta untuk belajar agama di masjid Syekh Ahmad pada tahun 1862.[1][1]
Setelah menikah, ia dididik oleh Syekh Darwisy Khadr yang telah mengubah jalan hidup Abduh yang tadinya enggan menuntut ilmu menjadi orang yang suka akan buku-buku dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1866, ia meneruskan studinya ke al-Azhar. Di tempat inilah ia bertemu dengan jamaluddin al-Afghani, tokoh Pan-Islamisme. Kepadanyalah Abduh berguru. Ia mulai belajar filsafat kepada Afghani, demikian juga politik.
Lulus dari al-Azhar, ia kemudian menjadi pengajar di lembaga itu. Ilmu-ilmu yang diajarkannya, menurut Ahmad Amin, adalah logika, teologi dan filsafat. Selain di al-Azhar, ia juga mengajar di Darul Ulum, ia memegang mata pelajaran sejarah dan buku yang dipakainya adalah Mukaddimah Ibn Khaldun. Di rumahnya, ia mengajarkan etika dengan memakai buku Tahzibul Akhlaq karya filosof Ibn Maskawih.
Dari ilmu-ilmu yang diajarkannya, terlihat bahwa pengetahuannya tidak terbatas hanya pada ilmu keagamaan, tetapi teologi, filsafat, logika, dan sejarah Eropa, yang diperolehnya melalui bacaan-bacaan di luar universitas itu, terutama di bawah bimbingan Jamalludin al-Afghani.
Di masa itu ia telah menulis karangan-karangan untuk harian al-Ahram yang pada waktu itu baru saja didirikan. Tulisannya mencakup bidang-bidang ilmu pengetahuan, sastra Arab, politik, agama, dan sebagainya.
Atas pengaruh Jamaluddin al-Afghani, Abduh juga terlibat dalam kegiatan politik. Pada waktu pemerintah Inggris dan Prancis mulai turut campur dalam pemerintahan Mesir, Afghani melakukan perlawanan. Ia bangkitkan semangat cinta tanah air rakyat Mesir. Kemudian ia bentuk Partai Nasional Mesir.
Karena tidak disukai penguasa Mesir, Afghani diusir dari Mesir pada tahun 1879. Abduh dijatuhi tahanan kota di luar Kairo, tetapi berkat usaha Perdana Menteri Riad Pasya, setahun kemudian ia kembali ke kairo dan tidak lama kemudian diangkat menjadi pemimpin redaksi al-Waqa’i al-Mishriyah, semacam koran negara.
Pada tahun 1884, ia bersama Afghani mendirikan majalah al-Urwatul Wutsqa walaupun umurnya tidak lama. Di tahun 1899 ia diangkat menjadi mufti Mesir sampai wafatnya tahun 1905.
Kehausan Abduh akan ilmu pengetahuan mendorongnya untuk selalu memperluas cakrawala pengetahuannya. Pada usia 44 tahun, ia mempelajari bahasa Prancis untuk mempelajari pengetahuan yang berkembang di Barat. Bahasa itu dapat ia kuasai dengaan baik. Ia melihat bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan Barat, seseorang perlu mengetahui bahasa yang berpengaruh di Eropa. Bahkan ia mengatakan bahwa orang yang tidak mengetahui salah satu bahasa Eropa di zaman modern ini tidaklah bisa disebut ulama.
Setelah mempelajari bahasa Prancis, ia banyak membaca buku-buku Prancis dalam filsafat, sosiologi, pendidikan, ilmu jiwa, etika, matematika, ilmu alam, sejarah, dan pemikiran-pemikiran para orientalis tentang islam.[2][2]
B.     Pemikiran-Pemikiran Muhammad Abduh
Kemajuan dan Kemunduran Umat
Menurut Abduh, sebab yang membawa kemunduran adalah paham jumud yang terdapat di kalangan umat islam. Sikap ini dibawa oleh orang-orang bukan Arab yang kemudian merampas kekuasaan politik dunia islam. Dengan masuknya mereka ke dalam islam, adat istiadat dan animism mereka turut pula mempengaruhi umat islam yang mereka perintah. Disamping itu mereka bukan pula berasal dari bangsa yang mementingkan pemakaian akal seperti yang dianjurkan dalam islam, melainkan berasal dari bangsa yang jahil dan tidak kenal pada ilmu pengetahuan. Mereka memusuhi ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan akan membuka mata rakyat. Rakyat perlu ditinggalkan dalam kebodohan agar mudah di perintah. Di dalam islam, mereka bawa ajaran-ajaran yang akan membuat rakyat berada dalam keadaan statis, seperti pujaan yang berlebihan pada syeikh dan wali, kepatuhan buta pada ulama, taklid pada ulama-ulama terdahulu dan tawakal, serta penyerahan segala-galanya pada qada dan qadar. Dengan demikian, mebekulah akal dan berhentilah pemikiran dalam islam.
           Menurut John L. Esposito, landasan utama pemikiran Abduh adalah keyakinan bahwa wahyu dan akal pada dasarnya selaras. Karena akal itu satu dengan fitrah, yang denganya Tuhan telah menjadikan sifat dasar manusia selaras dengan agama. Kepercayaan pada kekuatan akal adalah dasar peradaban suatu bangsa. Akal yang terlepas dari ikatan tradisi akan dapat memperoleh jalan yang membawa pada kemajuan, dan pemikiran akan menimbulkan ilmu pengetahuan.
           Ilmu pengetahuan modern yang banyak berdasarkan hukum alam tidaklah bertentangan dengan islam yang sebenarnya. Hukum alam adalah ciptaan Tuhan, dan wahyu juga berasal dari Allah SWT. karena keduanya berasal dari Tuhan, ilmu pengetahuan yang beradsar pada hukum alam dan islam yang berdasar pada wahyu, tak mungkin bertentangan, dan islam mesti sesuai dengan ilmu pengetahuan modern, begitupun sebaliknya[3][3].
Teologi Abduh
           Dalam bukunya Risalah al-Tauhid[4][4], Abduh menyatakn bahwa manusia mewujudkan perbuatanya dengan kemauan dan usahanya sendiri, dengan tidak melupakan diatasnya masih ada kekuatan yang lebih tinggi. Analisis penulis Barat menyatakan bahwa kemunduran umat islam akibat paham jabariyah (fatalism) dapat ia setujui, karena di kalangan awam islam, paham yang demikian masih dianut. Paham qada dan qadar telah diselewengkan menjadi fatalme, sedangkan paham itu sebenarnya mengandung paham yang dinamis membawa umat pada kemajuan. Dengan demikian paham fatalisme yang terdapat di kalangan umat perlu di hapuskan dengan paham kebebasan manusia dalam kemauan dan perbuatan.
           Pendapat Abduh mengenai perbuatan manusia adalah bahwa manusia merupakan makhluk yang berpikir dan berikhtiar dalam amal perbuatanya menurut petunjuk pikiranya. Dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas karena ia memiliki pikiran untuk menentukan pilihan dalam perbuatanya. Dan pilihan perbuatan yang dilakukan manusia akan menimbulkan konsekuensi, yakni jika perbuatan itu baik diberi pahala, dan jika perbuatan itu jahat pelakunya akan memperoleh siksa. Karena manusia menurut hukum alam atau sunnah Allah mempunyai kebebasan dalam kemauan dan daya untuk wujudkan kemauan itu, paham perbuatan yang dipaksakan atas manusia atau jabariyah tidak sejalan dengan pandangan Abduh. Manusia menurut Abduh adalah manusia, semata-mata karena ia mempunyai kebebasan dalam memilih. Oleh karena itu, pemberian wujud bagi manusia tidak termasuk paksaan berbuat.
           Wahyu dalam teologi Abduh mempunyai dua fungsi pokok. Fungsi pokok pertama timbul dari keyakinan bahwa jiwa manusia akan terus ada dan kekal sesudah tubuh mati. Keyakinan akan adanya hidup kedua setelah hidup pertama ini bukan hasil dari pemikiran yang sesat dari akal dan bukan pula suatu khayalan, karena umat manusia sepakat bahwa jiwa akan tetap hidup sesudah ia meninggalkan tubuh. Fungsi kedua, wahyu mempunyai kaitan yang erat dengan sifat dasar manusia sebagai makhluk social. Untuk menatur manusia dengan baik, dikirimlah nabi ke permukaan bumi untuk mengatur hidupnya di dunia dan untuk dapat mengetahui keadaan hidupnya di akhirat nanti.  Dengan demikian wahyu menolong akal untuk mengetahui alam akhirat dan keadaan hidup manusia disana. Sekalipun semua itu sulit bagi akal untuk memahaminya, tetapi akal dapat menerima adanya hal-hal itu.
           Dalam hal sifat Tuhan, Abduh berpendapat bahwa Tuhan tidak bersifat, sifat bagi Abduh termasuk esensi Tuhan. Kalau Tuhan masih memerlukan sesuatu yang berada di luar dzatnya, yakni sifat-sifat, berate sesuatu yang lebih tinggi dari pada dzat Tuhan. Bagi paham Mu’tazilah, hanya manusia yang berhajat kepada sifat, misalnya ilmu dan lain-lain, karena tidak sempurnanya manusia. Jika Tuhan juga demikian keadaanya, menurut Mu’tazilah, berate Tuhan merupakan dzat yang tidak sempurna karena Ia berhajat kepada ilmu sebagai sifat yang berada di luar dzat-Nya[5][5].
Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh
Pemikiranya dalam bidang pendidikan lebih banyak difokuskan pada masalah menghilangkan dikotonomi pendidikan, menghilangkan kelembagaan pendidikan, pengembangan kurikulum dan metode pengajaran. Adapun gagasanya sebagai berikut[6][6].
1.      Menghilangkan Dikotonomi Pendidikan
Menurut Muhammad Abduh, bahwa diantara factor yang membawa kemunduran dunia islam adalah karena adanya pandangan dikotonomis yang dianut oleh umat islam, yakni dikotonomi atau pertentangan antara ilmu agama dan ilmu umum. Berbagai lembaga pendidikan islam di dunia pada umumnya hanya mementingkan ilmu agama, dan kurang mementingkan ilmu umum. Menurut Muhamad Abduh, corak pendidikan yang demikian itu lebih banyak berdampak negative dalam dunia pendidikan. System madrasah lama akan menghasilkan ahli ilmu agama, sedangkan sekolah pemerintah mengeluarkan tenaga ahli ilmu yang tidak mempunyai visi dan wawasan keagamaan. Keadaan ini mirip dengan yang terjadi di Indonesia sebelum tahuan 70an. Yakni pada waktu itu madrasah yang bernaung dibawah Departemen (sekarang kementrian) agama hanya mengajarkan ilmu agama, sedangkan sekolah yang berada di bawah kementrian Pendidikan Nasional kurang mementingkan agama.
Untuk mengatasi masalah dikotonomi yang demikian itu, Muhammad Abduh mengusulkan agar dilakukan lintas disiplin ilmu antar kurukulum madrasah dan sekolah, sehingga jurang pemisah antara kaum ulama dan ilmuan modern akan hilang. Gagasanya ia terapkan di Universitas Al-Azhar, yaitu dengan melakukan penataan kembali struktur pendidikan di Al-Azhar, yang kemudian dilanjutkan pada lembaga pendidikan yang berada di Thanta, Dassus, Dimyat, Iskandariyah, dan lainya. Dengan usahanya ini, berharap berbagai lembaga pendidikan di Negara lainya dapat mengikutinya, karena Universitas Al-Azhar pada waktu itu merupakan lembang dan panutan pendidikan di Mesir khusunya, dan di dunia islam pada umumnya.
2.      Pengembangan Kelembagaan Pendidikan
Dalam upayanya mengembangkan kelembagaan pendidikan, Muhammad Abduh mendirikan sekolah menengah pemerintah untuk menghasilkan tenaga ahli dalam berbagai bidang yang dibutuhkan, yaitu bidang administrasi, militer, kesehatan, perindustrian, dan sebagainya. Melalui berbagai lembaga pendidikan ini, Muhammad Abduh berupaya memasukkan pelajaran agama, sejarah dan kebudayaan islam.
Selain itu, madrasah-madrasah yang berada di bawah naungan Al-Azhar, Muhammad Abduh menganjarkan ilmu Manthiq, Falsafah dan Tauhid. Hal ini merupakan gagasan baru, karena sebelumnya Al-Azhar memandang ilmu Manthiq dan Falsafah itu sebagai barang haram. Selain itu, di rumahnya Muhammad Abduh juga mengajarkan kitab Tahzib al-Akhlaq karangan Ibn Maskawih, serta kitab Sejarah Peradaban Eropa yang telah di terjemahkan kedalam bahasa Arab, karangan seorang Prancis dengan judul al-Tuhfat al-Adaabiyah fi Tarikh Tamaddun al-Mamalik al-Awribiyah.
3.      Pengembangan Kurikulum
Muhammad Abduh melakukan pengembangan kurikulum Sekolah Dasar, Sekolah Menengah dan Kejuruan, serta Universitas di Al-Azhar. Pengembangan tersebut dapat dikemukakan secara singkat sebagai berikut.
a.       Pengembangan Kurikulum Sekolah Dasar
Menurut Muhammad Abduh bahwa dasar pembentukan jiwa agama hendaknya dilakukan sejak masa kanak-kanak. Oleh karena itu, mata pelajaran agama agar dijadikan pelajaran wajib pada semua mata pelajaran. Pandangan ini mengacu pada anggapan bahwa ajaran agama islam merupakan dasar pembentukan jiwa dan pribadi muslim. Dengan memiliki jiwa dan pribadi muslim, maka rakyat Mesir akan memiliki jiwa kebersamaan dan nasionalisme yang selanjutnya dapat menjadi dasar bagi pengembangan sikap hidup yang lebih baik , dan sekaligus dapat meraih kemajuan[7][7].
b.      Pengembangan Kurikulum Sekolah Menengah dan Sekolah Kejuruan
Pengembangan Kurikulum Sekolah Menengah dan Sekolah Kejuruan dilakukan dengan memasukan mata pelajaran Manthiq dan Falsafah yang sebelumnya tidak boleh di ajarkan. Selain itu, dimasukan pula pelajaran tentang sejarah dan peradaban islam dengan tujuan agar umat islam dapat mengetahui berbagai kemajuan dan keunggulan yang pernah di capai dunia islam di masa silam, sebagai pemicu bagi lahirnya kebanggan terhadap islam serta semangat untuk membangun kembali kejayaan umat islam.
c.       Pengembangan Kurikulum  Universitas Al-Azhar
Pengembangan Kurikulum Universitas Al-Azhar dilakukan dengan cara menyesuaikan kebutuhan masyarakat pada waktu itu dengan para lulusan pendidikan, yakni orang-orang yang dapat berpikir kritis, komperhesif, progrsif, dan seimbang tentang ajaran islam, yaitu para ulama yang intelek atau dengan kata lain menjadi ulama yang modern. Berkaitan dengan ini, maka Muhammad Abduh mengusulkan untuk dimasukanya mata kuliah filsafat, logika dan ilmu pengetahuan modern kedalam kurikulum Universitas Al-Azhar.
4.      Pengembangan Metode Pengajaran
Menurut Muhammad Abduh bahwa metode pengajaran yang selama ini hanya mengandalkan hafalan perlu di lengkapi dengan metode rasional dan pemahaman (insight). Dengan demikian, di samping para siswa menghafal suatu bahan pengajaran, juga dapat memahaminya dengan kritis, objektif dan komperhesif. Berkenaan dengan ini, Muhammad Abduh mengusukan agar menghidupkan kembali metode munadzarah (diskusi) dalam memahami pengetahuan dan menjauhkan diri dari metode taklid buta terhadap para ulama. Selain itu, juga mengembangkan kebebasan ilmiah di kalangan Mahasiswa Al-Azhar. Ia juga menjadikan bahasa Arab yang selama ini hanya menjadi ilmu yang tidak berkembang menjadi ilmu yang berkembang dan dapat dipergunakan untuk menerjemahkan teks-teks pengetahuan modern ke dalam bahasa Arab[8][8].
                                                  


                                                  KESIMPULAN
           Berdasarkan uraian pada pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa :
Pertama, Muhammad Abduh dapat di kategorikan sebagai ulama yang intelek atau ulama modern yang berupaya ingin memajukan dengan mengembalikan kembali kejayaan umat islam agar siap menghadapi tantangan zaman, dengan cara menijau kembali pemahaman ajaran islam agar sesuai dengan perkembangan zaman.
Kedua, disamping memiliki perhatian terhadap masalah ummat dan teologi, Muhammad Abduh juga memiliki perhatian yang besar dalam dunia pendidikan.
Ketiga, menurut Muhammad Abduh alasan kemunduran umat adalah karena paham jumud dan keyakinan yang salah mengenai qada dan qadar, dan untuk membebaskan umat islam dari kemunduran inilah Abduh menggagaskan untuk memfungsikan akal dan wahyu untuk membebaskan diri dari taklid yang berlebihan.
           Keempat, pandangan Abduh mengenai teologi bahwasanya manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan dirinya dalam berbuat. Ia berhak atas dirinya sendiri, dia (manusia) akan memperoleh pahala bila memilih menjadi baik, dan akan mendapat siksa bila ia memilih perbuatan buruk. Baginya, wahyu dan akal tidaklah bertentangan, fungsi wahyu disini adalah untuk menjelaskan hal-hal yang sulit di terima oleh akal.
Kelima, gagasan dan pemikiran Muhammad Abduh dalam bidang pendidikan antara lain berkenaan dengan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu modern, pembaruan dan pengembangan kelembagaan pendidikan, pengembangan kurikulum dan metode pengajaran


                                                    Daftar Pustaka

Nata, Abbudin. 2012. Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Aziz, Ahmad Amir. 2009. PEMBARUAN TEOLOGI : Perspektif Modernisme Muhammad Abduh dan Neo-Modernisme Fazlur Rahman. Yogyakarta : Teras.
Nasution, Harun. 1975.  Pembaruan Dalam Islam : Sejarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta : Bulan Bintang.
Saefuddin, Didin. 2003.  Pemikiran Modern dan Postmodern Islam : Biografi Intelektual 17 Tokoh. Jakarta : PT Grasindo.
Sani, Muhammad. 1998. Lintas Sejarah Pemikiran Modern dalam Islam. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

.



[1][1] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, PT. Bulan Bintang, Jakarta, 1975, hlm. 49-50.
[2][2] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Post Modern, PT Grasindo, Jakarta, 2003, hlm. 19-21.
[3][3] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam : Biografi Intelektual 17 Tokoh, (Jakarta: PT Grasindo, 2003), hlm.21-23.
[4][4] Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, (Jakarta : Bulan Bintang, 1989), hlm.41.
[5][5] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam : Biografi Intelektual 17 Tokoh, (Jakarta: PT Grasindo, 2003), hlm.24-28.
[6][6] Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2012), hlm.308-309.
[7][7] Abdul Sani, Lintas Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern dalam Islam, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1998), hlm.53.
[8][8] Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2012), hlm.311-312.




Kamis, 24 Maret 2016

makalah bimbingan dan konseling




MAKALAH ASAS ASAS BIMBINGAN KONSELING  SERTA LANDASAN PELAYANAN BK
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Asas Bimbingan Konseling (BK)
  A. Pengertian Asas
           Asas adalah landasan yang mendasari pelaksanaan bimbingan konseling. Menurut Prayitno 1987. Asas (prinsip) merupakan suatu pernytaan fundamental atau kebenaran umum yang dapat dijadikan pedoman pemikiran dan tindakan. Asas-asas muncul dari hasil penelitian dan tindakan. Asas sifatnya permanen, umum dan setiap ilmu pengetahuan memiliki asas yang mencerminkan intisari kebenran-kebenaran dasar dalam bidang ilmu tersebut. Asas adalah dasar tapi bukan suatu yang absolute atau mutlak. Artinya penerapan asas harus mengembangkan keadaan-keadaan khusus yang berubah-ubah.[1]
  B. Pengertian Bimbingan Konseling (BK)
           Bimbingan konseling adalah Proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah ( konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.[2]
2.2. Asas – Asas Bimbingan dan Konseling (BK)
  Dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling kaidah – kaidah tersebut di kenal dengan asas bimbingan dan konseling, yaitu ketentuan – ketentuan yang harus di terapkan dalam peyelenggaraan pelayanan itu.
Asas – asas yang di maksud adalah asas kerahasian, kesukarelaan, keterbukaan, kekinian, kemandirian, kegiatan, kedinamisan, keterpaduan, kenormatifan, keahlian, alih tangan, dan tutwuri hadayani ( Prayitno,1987 ). Berikut ini diantaranya asas – asas dalam bimbingan dan konseling:
1. Asas Kerahasiaan : Asas-asas kerahasian yaitu menuntun dirahasiakanya segenap data dan keterangan peserta didik yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Sebagaimana telah diketahui bahwa dalam kegiatan bimbingan dan koseling, kadangkadang konseli harus menyampaikan halhal yang sangat pribadi / rahasia kepada konselor. Oleh karena itu konselor harus menjaga kerahasiaan data yang diperolehnya dari konselinya. Sebgai konselor berkewajiban untuk menjaga rahasia data tersebut, baik data yang diperoleh dari hasil wawancara atau konseling, karena hubungan menolong dalam bimbingan dan konseling hanya dapat berlangsung dengan baik jika data informasi yang dipercayakan kepada konselor atau guru pembimbing dapat dijamin kerahasiaannya. Asas ini bisa dikatakan sebagai “Asas Kunci” dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling, karena dengan adanya asas kerahasiaan ini dapat menimbulkan rasa aman dalam diri konseli. Berdasarkan apa yang dikemukakan di atas, maka apa yang terjadi saat pelayanan bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh konselor dan konseli baik itu isi pembicaraan atau pun sikap konseli, kerahasiaanya perlu dihargai dan dijaga dengan baik. Demikian pula catatancatatan yang dibuat sewaktu atau pun sesudah wawancara atau konseling perlu disimpan dengan baik dan kerahasiaanya dijaga dengan cermat oleh konselor.
         Contoh asas kerahasian : ada seorang konseli yang menceritakan kepada konselor bahwa seorang konseli itu memiliki penyakit HIV yang didapatnya sejak lama maka seorang konselor harus bisa menjaga kerahasian tersebut agar penyakit konseli itu tidak di ketahui oleh orang banyak.
2. Asas Kesukarelaan : Asas kesukarelaan yaitu asas BK yang menghendaki adanya kesukaaan dan kerelaan peserta didik mengikuti atau menjalankan layanan atau kegiatan yang di peruntukan baginya. Telah dikemukakan bahwa bimbingan merupakan proses membantu individu. Perkataan membantu disini mengandung arti bahwa bimbingan bukan merupakan suatu paksaan, akan tetapi merupakan suatu binaan. Oleh karena itu dalam kegiatan bimbingan dan konseling diperlukan adanya kerjasama yang demokratis antara konselor / guru pembimbing dengan konselinya. Kerjasama akan terjalin bilamana konseli dapat dengan suka rela menceritakan serta menjelaskan masalah yang dialaminya kepada konselor.
         Contoh asas kesukarelaan : ada seorang peserta didik yang selalu tidak masuk dikarenakan tidak suka pada pada salah satu mata pelajaran di sekolahnya, sebagai guru konselor seharusnya kita harus mengubah sikap / perilaku konseli tersebut agar dapat suka pada mata pelajaran tersebut dengan selalu membina dan mengembangkanya.
3. Asas Keterbukaan : Asas keterbukaan yaitu asas BK yang menghendaki agar peserta didik yang menjadi sasaran layanan atau kegiataan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Asas keterbukaan merupakan asas yang sangat penting bagi konselor / guru pembimbing, karena hubungan tatap muka antara konselor dan konseli merupakan pertemuan bathin tanpa tedeng alingaling. Dengan adanya keterbukaan ini dapat ditumbuhkan kecenderungan pada konseli untuk membuka dirinya, untuk membuka kedok hidupnya yang menjadi penghalang bagi perkembangan psikisnya. Konselor yang sukses adalah konselor yang bisa memudahkan konseli untuk membuka dirinya dan berusaha memahami lebih jauh tentang dirinya sendiri. Truax dan Carkhuff menyimpulkan bahwa “ada hubungan yang erat antara keterbukaan konselor dan kemampuan klien membuka diri (Self Exploration).” Asas ini menghendaki agar konseli bersifat terbuka dan tidak berpurapura dalam memberikan keterangan maupun informasi.Dalam hal ini konselor / guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli.Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpurapura. Hal demikian akan mendorong konseli mengekspresikan pengalaman pribadinya. Keterusterangan dan kejujuran si terbimbing akan terjadi jika si terbimbing tidak lagi mempersoalkan asas kerahasiaan dan kesuka relaan ; maksudnya , si terbimbing telah betulbetul telah mempercayai konselornya lebih jauh, keterbukaan akan semakin berkembang apabila klien tahu bahwa kinselornya terbuka. Keterbukaan di sini di tinjau dari dua arah. Dari pihak klien di harapkan pertamatama mau membuka diri sendiri sehingga apa yang ada pada dirinya dapat di ketahui oleh orang lain, dan kedunya mau membuka diri dalam arti mau menerima saransaran dan masukan lain lainya dari pihak luar.
Contoh asas keterbukaan : ada seorang konseli yang memiliki sifat tertutup sebagai konselor kita harus dapat mengubah konseli untuk bicara secara terbuka dan tidak berpura-pura dalam menceritakan maslah pribadinya sendiri, sehingga konseli dapat berbicara jujur dan merasa nyaman dalam menyampaikan masalahhnya.
4. Asas Kekinian Asas kekinian yaitu asas bimbingan yang mengkehendaki agar obyek sasaran layanan BK ialah permasalahan peserta didik dalam kondisi masa sekarang. Layanan yang berkenan dengan masa depan atau masa lamoau dilihat dampak atau kaitan dengan kondisi yang ada dan apa yang dapat diperbuat sekarang. Pada umumnya pelayanan bimbingan dan konseling bertitik tolak dari masalah yang dirasakan konseli saat kini atau sekarang, namun pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling itu sendiri menjangkau dimensi waktu yang lebih luas, yaitu masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Permasalahan yang dihadapi oleh konseli sering bersumber dari rasa penyesalannya terhadap apa yang terjadi pada masa lalu, dan kekhawatiran dalam menghadapi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang, sehingga ia lupa dengan apa yang harus dan dapat dikerjakannya pada saat ini. Sesuai apa yang terkemukan di atas, maka diharapkan konselor dapat mengarahkan konseli untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya sekarang. Sebagaimana firman Allah SWT Artinya :
Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benarbenar dalam kerugian.Kecuali orangorang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr : 13).
Contoh asaa kekinian ; konselor tidak banyak fokus pada masalah yang telah di hadapi, tetapi konselor harus terus memantau perkembangan konseli baik fisik dan psikisnya.
5. Asas Kemandirian : Asas kemandirian yaitu asas BK yang menunjuk pada tujuan umum BK, yaitu : peserta didik sebagai sasaran layanan BK diharapkan menjadi individu–individu yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Salah satu tujuan pemberian layanan bimbingan dan konseling adalah agar konselor berusaha menghidupkan kemandirian di dalam diri konseli. Ciri-ciri kemandirian tersebut yaitu mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. Agar dapat tumbuh sikap kemandirian tersebut, maka konselor harus memberikan respon yang cermat terhadap konseli atas keluhan-keluhan yang diungkapkan. Individu yang terbimbing setelah dibantu diharapkan dapat mandiri dengan ciri-ciri pokok mampu:
a.  Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagaimana mestinya.
b.  Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis.
c.  Mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri.
d.  Mengarahkan diri sesui dengan keputusan itu.
e. Mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi, minat dan kemampuankemampuan yang di miliki.
Kemandirian dengan ciri-ciri umum di atas haruslah disesuikan dengan tingkat perkembangan dan peranan klien dalam kehidupan sehari-hari. Kemandiran sebagai hasil konseling menjadi arah dari keseluruhan proses konseling, dan hal itu didasari baik oleh konselor maupun klien. Contoh asaa kemandirian : ada seorang konseli yang cacat fisik datang pada kita dia menceritakan bahwa dia tidak memiliki semangat untuk meluruskan hidupnya, sebagai konselo yang profesional kita harus bisa menumbuhkan rasa semangat hidup dengan cara memberikan pemahaman agar konseli tersebut mengenal dan menerima dirinya dan lingkungan, dan mampu mengambil sebuah keputusan agar konseli tersebut menjadi diri yang mandiri .
6. Asas Kegiatan : Asas kegiatan yaitu asa BK yang mengkehendaki agar peserta didik yang menjadi sasaran layanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan layanan atau kegiatan BK. Dalam proses pelayanan bimbingan dan konseling kadang-kadang konselor memberikan beberapa tugas dan kegiatan pada konslinya. Dalam hal ini konseli harus mampu melaksanakan sendiri kegiatan-kegiatan tersebut dalam rangka mencapai tujuan bimbingan dan konseling yang telah ditetapkan. Asas ini menghendaki agar konseli bisa berpartisipasi secara aktif atas kegiatan yang diselenggarakan oleh konselor. Di pihak lain konselor harus berusaha / mendorong agar konseli mampu melaksanakan kegiatan yang telah ditetapkan tersebut. Asas ini merujuk pada pola konseling ”Multidimensional” yang tidak hanya mengandalkan transaksi perbal antara klien dan konselor. Dalam selenggara, yaitu klien aktif menjalani proses konseling dan aktif pula melaksanakan/menerapkan hasilhasil konseling.
Contoh asas kegiatan : seorang konselor harus bisa membuat suatu program kegiatan seperti ospek maupun MOS (siswa baru ) agar konseli /peserta didik dapat mengenali lingkungan yang baru serta mampu untuk mnyesuaikan dirinya dengan lingkungan yang baru.
7. Asas Kedinamisan : Asas kedinamisan yaitu asas BK yang mengkehendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembanganya dari waktu ke waktu. Keberhasilan usaha pelayanan bimbingan dan konseling ditandai dengan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku konseli ke arah yang lebih baik. Untuk mewujudkan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku itu membutuhkan proses dan waktu tertentu sesuai dengan kedalaman dan kerumitan masalah yang dihadapi konseli. Isi layanan bimbingan dan konseling dari asas ini adalah selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. Konselor dan pihakpihak lain diminta untuk memberikan kerjasama sepenuhnya agar pelayanan bimbingan dan konseling yang diberikan dapat dengan cepat menimbulkan perubahan dalam sikap dan tingkah laku konseli.Asas kedinamisan mengacuh pada halhal baru yang hendaknya terdapat pada dan menjadi ciriciri dari proses konseling dan hasilhasil nya.
Contoh asas kedinamisan : seorang konselor harus mampu mengikuti pergerakan zaman, agar konselor dapat menyelesaikan suatu permasalahn yang pada seorang konseli yang semakin kompleks misalnya keluarga broken serta pergaulan bebas dikalangan pemuda.
8. Asas Keterpaduan : Asas keterpaduan yaitu asas BK yang mengkenhendaki agar berbagai layanan dan kegiatan BK , baik yang di lakuakn oleh guru BK / konselor maupun pihak lain, saling menunjang ,harmonis dan terpaduan. Pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki terjalin keterpaduan berbagai aspek dari individu yang dibimbing. Untuk itu konselor perlu bekerja sama dengan orangorang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang dihadapi konseli. Dalam hal ini peranan guru, orang tua, dan siswasiswa yang lain sering kali sangat menentukan. Konselor harus pandai menjalin kerja sama yang saling mengerti dan saling membantu demi terbantunya konseli yang mengalami masalah. Untuk terselenggaranya asas keterpaduan, konselor perlu memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan klien dan aspekaspek lingkungan klien, serta berbagai sumber yang dapat diaktifkan untuk menangani masalah klien. Kesemuanya itu dipadukan dalam keadaan serasi dan saling menunjang dalam upaya bimbingan dan konseling.
Contoh asas keterpaduan : seorang konseli melakuakn kerjasama dengan seorang psikologi seks mupun dokter kandungan, dan mengundang kesekolah untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik di sekolah agar konseli / peserta didik memiliki pengetahuan dan pemahaman yang lebih jelas tentang seks, upayah mereka tidak terjerat dalam pergaulan besar.
9. Asas Kenormatifan : Asas kenormatifan yaitu asas BK yang mengkehendaki agar segenap layanan dan kegiatan BK didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma-norma yang ada, yaitu norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat ilmu pengetahuan ,dan kebiasaan yang berlaku. Pelayanan bimbingan dan konseling yang dilakukan hendaknya tidak bertentangan dengan normanorma yang berlaku di dalam masyarakat dan lingkungannya. Dalam kegiatan bimbingan dan konseling, konselor tentu akan menyertakan norma-norma yang dianutnya ke dalam hubungan konseling, baik secara langsung atau tidak langsung. Tetapi harus diingat bahwa konselor tidak boleh memaksakan nilai atau norma yang dianutnya itu kepada konselinya. Seluruh layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling ini adalah didasarkan pada normanorma yang berlaku yaitu norma agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaankebiasaan yang berlaku. Bahkan lebih jauh lagi, layanan / kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat meningkatkan kemampuan siswa / konseli dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan normanorma tersebut.
Contoh asas kenormatifan : seorang konselor dalam menjalankan tugasnya, harus sesui dengan norma, hukum , adat istiadat sehingga terciptanya suasana yang harmonis diantara konseli dan konselor karena seorang konselor yang profesional harus bisa menciptakan suasana yang nyaman bagi seorang konseli.
10. Asas Keahlian : Asas keahlian yaitu asas BK yang mengkehendaki agar layanan dan kegiatan BK diselenggarakan atas dasar kaidahkaidah profesional. Untuk menjamin keberhasilan usaha bimbingan dan konseling, para petugas harus mendapatkan pendidikan dan latihan yang memadai. Pengetahuan, keterampilan, sikap dan kepribadian yang ditampilkan oleh konselor / guru pembimbing akan menunjang hasil konseling. Pendek kata bahwa para pelaksana layanan bimbingan dan konseling ini harus benarbenar ahli dibidang bimbingan dan konseling, atau dalam istilah lain adalah profesional.
Contoh asas keahlian : apabila ada seorang peserta didik/konselor yang datang pada seorang konselor, seorang harus bersikap seprti konselor bukan bersikap seprti dokter maupun yang lainya yaitu memberikan sepenuhnya semua keputusan pada konseli .
11. Asas Alih TanganAsas alih tangan yaitu asas BK yang mengkehendaki agar pihak –pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan BK secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik mengalih tangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang menangani masalah-masalah yang cukup pelik. Berhubung hakekat masalah yang dihadapi konseli adalah unik (kedalamannya, keluasannya, dan kedinamisannya), disamping pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh konselor adalah terbatas, maka ada kemungkinan suatu masalah belum dapat diatasi setelah proses konseling berlangsung. Dalam hal ini konselor perlu mengalih tangankan (referal) konseli pada pihak lain (konselor) yang lebih ahli untuk menangani masalah yang sedang dihadapi oleh konseli tersebut.
Contoh asas alih tangan : ada seorang peserta didik/konseli yang mengalami tidak lulus sekolah, seorang konselor tidak dapat bertindak sendiri dalam konteks ini, seorang konselor harus melakuakn kerjasama dengan pihak yang lebih kompeten dalam kasus ini seperti membawa konseli tersebut pada seorang psikiater maupun dokter.
12. Asas Tut Wuri Handayani : Asas tutwuri handayani yaitu asas BK yang mengkehendaki agar pelayanan BK secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi (memberi rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan ransangan dan dorongan serta kesempataan yang seluasluasnya kepada peserta didik untuk maju Sebagaimana yang telah dipahami dalam pengertian bimbingan dan konseling bahwa bimbingan dan konseling itu merupakan kegiatan yang dilakukan secara sistematis, sengaja, berencana, terus menerus, dan terarah kepada suatu tujuan. Oleh karena itu kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan adanya pada saat konseli mengalami masalah dan menghadapkannya kepada konselor / guru pembimbing saja. Kegiatan bimbingan dan konseling harus senantiasa diikuti secara terus menerus dan aktif sampai sejauh mana konseli telah berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Asas ini menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, dan memberikan rangsangan dan dorongan, serta kesempatan yang seluasluasnya kepada konseli untuk maju.
Contoh asas tut wuri handayani : seorang konselor harus menjadi guru teladan, dan menyenangkan agar peserta didik / konseli tidak takut menceritakan masalahnya kepada kita dan mampu mengayomi pasaerta didik.[3]
2.3. Landasan Pelayanan Bimbingan dan Konseling (BK)
   1. Landasan Filosofis
         Kata filosofis atau filsafat berasal dari bahasa Yunani: Philos berarti cinta dan sophos berarti bijaksana, jadi filosofis berarti kecintaan terhadap kebijaksanaan. Filsafat mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia, yaitu bahwa :
a. Setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan,
b. Keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri
c. Dengan berfilsafat dapat mengurangi salah paham dan konflik, dan
d. Untuk menghadapi banyak kesimpangsiuran dan dunia yang selalu berubah.
  2. Landasan Psikologis
         Landasan psikologis dalam BK memberikan pemahaman tentang tingkah laku individu yang menjadi sasaran (klien). Hal ini sangat penting karena bidang garapan bimbingan dan konseling adalah tingkah laku klien, yaitu tingkah laku yang perlu diubah atau dikembangkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi Untuk keperluan bimbingan dan konseling sejumlah daerah kajian dalam bidang psikologi perlu dikuasai, yaitu tentang:
a. Motif dan motivasi
b. Pembawaan dasar dan lingkungan
c. Perkembangan individu
d. Belajar
e. Kepribadian
  3. Landasan Sosial Budaya
         Landasan sosialbudaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosialbudaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien, yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya, yaitu : perbedaan bahasa, komunikasi nonverbal, stereotipe, kecenderungan menilai, dan, kecemasan.
         Agar komunikasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis, maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilainilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.[4]
  4. Landasan Religius
         Dalam landasan religius Bimbingan dan Konseling diperlukan penekanan pada 3 hal pokok, yaitu;
a. Keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam adalah mahluk tuhan,
b.  Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan kearah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama, dan
c. Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai dengan kaidahkaidah agama untuk membentuk perkembangan dan pemecahan masalah individu.
a). Manusia sebagai Mahluk Tuhan : Manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki sisisisi kemanusiaan. Sisisisi kemanusiaan tersebut tdiak boleh dibiarkan agar tidak mengarah pada halhal negatif. Perlu adanya bimbingan yang akan mengarahkan sisisisi kemanusiaan tersebut pada halhal positif.
b). Sikap Keberagamaan : Agama yang menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat menjadi isi dari sikap keberagamaan. Sikap keberagamaan tersebut pertama difokuskan pada agama itu sendiri, agama harus dipandang sebagai pedoman penting dalam hidup, nilainilainya harus diresapi dan diamalkan. Kedua, menyikapi peningkatan iptek sebagai upaya lanjut dari penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat.
c). Peranan Agama : Pemanfaatan unsurunsur agama hendaknya dilakukan secara wajar, tidak dipaksakan dan tepat menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak mengambil keputusan sendiri sehingga agama dapat berperan positif dalam konseling yang dilakukan agama sebagai pedoman hidup ia memiliki fungsi memelihara fitrah, memelihara jiwa, memelihara akal dan memelihara keturunan.[5]
  5. Landasan Psikologis
         Landasan psikologis da;lam hubungannya dengan Bimbingan dan Konseling aalah memberikan pemahaman tentang tingkah laku klien (sasaran layanan) dalam proses konseling. Mengingat bahwa sasaran pelayanan dari Bimbingan dan Konseling adalah tingkah laku itu sendiri, baik dalam pengembangan maupun pengubahan tingkah laku tersebut kea rah yang lebih baik. Untuk keperluan Bimbiungan dan Konseling, halhal yang perlu di kuasai dalam hubungannya dengan bidang psikologi, yaitu:
           a. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku.
b. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktorfaktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psikofisik. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada.
c. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial.
d. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya, dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu.
e. Kepribadian Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspekaspek kepribadian, yang mencakup :
·        Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
·        Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsanganrangsangan yang datang dari lingkungan.
·        Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen.
·        Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, sedih, atau putus asa.
·        Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
·        Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
                       Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). Oleh karena itu, agar konselor benarbenar Dapat menguasai landasan psikologis, setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik, yaitu bidang psikologi umum, psikologi perkembangan, psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian.
  6. Landasan Pedagogis
         Pendidikan itu merupakan salah satu lembaga sosial yang universal dan berfungsi sebagai sarana reproduksi sosial ( Budi Santoso, 1992). Dalam hal ini, pendidikan ditinjau sebagai landasan Bimbingan danKonseling dari tiga segi, yaitu:
a. Pendidikan sebagai upaya pengembangan Individu: Bimbingan merupakan bentuk upaya pendidikan. Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Seorang bagi manusia hanya akan dapat menjadi manusia sesuai dengan tuntutan budaya hanya melalui pendidikan. Tanpa pendidikan, bagi manusia yang telah lahir itu tidak akan mampu memperkembangkan dimensi keindividualannya, kesosialisasinya, kesusilaanya dan keberagamaanya. UndangUndang No. 2 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menetapkan pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
b. Pendidikan sebagai inti Proses Bimbingan Konseling. Bimbingan dan konseling mengembangkan proses belajar yang dijalani oleh klienkliennya. Kesadaran ini telah tampil sejak pengembangan gerakan Bimbingan dan Konseling secara meluas di Amerika Serikat . pada tahun 1953, Gistod telah menegaskan Bahwa Bimbingan dan Konseling adalah proses yang berorientasi pada belajar……, belajar untuk memahami lebih jauh tentang diri sendiri, belajar untuk mengembangkan dan merupakan secara efektif berbagai pemahaman.
c. Pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan Bimbingan tujuan dan konseling. Tujuan Bimbingan dan Konseling disamping memperkuat tujuantujuan pendidikan, juga menunjang proses pendidikan pada umumnya. Hal itu dapat dimengerti karena programprogram bimbingan dan konseling meliputi aspekaspek tugas perkembangan individu, khususnya yang menyangkut kawasan kematangan pendidikan karier, kematangan personal dan emosional, serta kematangan sosial, semuanya untuk peserta didik pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan pendidikan menengah (Borders dan Drury, 1992). Hasilhasil bimbingan dan konseling pada kawasan itu menunjang keberhasilan pendidikan pada umumnya.[6]

















[1]Fahmi Muhammad, “Fungsi dan Tujuan Asas – Asas Bimbingan dan Konseling”, http://f ahmimuh13.blogspot.co.id/2012/12/fungsidantujuanasasasasbimbingan_17.html. (diakses tanggal 24 Maret 2016).
[2]Hariyanto S.Pd., “Pengertian Bimbingan dan Konseling”, http://belajarbimbinganpsikolo gi.com/penge rtian-bimbingan-dan-konseling.hmtl. (diakses tanggal 24 Maret 2016).
[3]Pereza Nasari, “Asas – Asas Bimbingan Konseling”, http://parezanasari.blogspot. co.id/2015/01/makalahasasasasbimbingankonseling.hmtl. (diakses tanggal 25 Maret2016)
[4]Icha Sugiarto, “Landasan Bimbingan dan Konseling”, http://ichasugiato.blogspot.co.id/2 012/02/makalahlandasanbimbingandan.html. (diakases tanggal 25 Maret 2016).
[5]Warna Warni, “Landasan Bimbingan dan Konseling disekolah”, http://warnaawarnii.blo-
gspot.co.id/2012/12/landasanbimbingandankonselingbk.html. (diakses tanggal 25 Maret 2016).
[6]Ayunda Putri Nilasari, “Landasan – Landasan Bimbingan dan Konseling”, http://kafeilm uayundaputri.blogspot.co.id/2011/04/landasanlandasanbimbingandan.html. (diakses tanggal 25 Ma ret 2016).